Memiliki Visi Setiap Hari

0
237
vision

Kita acapkali merasa langkah kaki kita berlalu tanpa arti. Kesibukan dunia menjadikan hari-hari kita kering tak berjiwa. Rutinitas menjadikan kehidupan kita kerontang hampa makna.

Supaya hari-hari kita bermakna, Rasulullah memberi nasehat agar kita selalu memulai hari-hari dengan sebuah doa nan indah yang selaiknya terlafadzkan oleh lisan kaum beriman tatkala subuh menjelang:

“ALLAAHUMMA INNII AS ALUKA ‘ILMAN NAAFI’AN, WA RIZQAN THAYYIBAN, WA’AMALAN MUTAQABBALAN”. “Ya Allah, aku memohon kepadaMu ilmu yang bermanfaat, rizki yang baik dan amal yang diterima”.

Inilah sejatinya tiga visi setiap kaum beriman dalam memaknai hidupnya setiap hari. Visi yang ditambatkan membuat hari-hari kita memiliki tujuan.

VISI YANG PERTAMA ADALAH “ILMU YANG BERMANFAAT”. Syahdan, Kiai Ahmad Dahlan pernah mengajarkan kepada para santrinya bahwa mengamalkan surah al ma’un bukan sekedar membacanya dalam shalat. Lebih dari itu, kepedulian terhadap kaum dhuafa dan terpinggirkan seharusnya menjadi akhlak yang menghiasi orang-orang yang menjalankan shalat.

Kiai Dahlan sejatinya mengajarkan sebuah pesan penting: “MILIKI ILMU YANG AMALIAH”. Ilmu haruslah menjadi perilaku. Itulah sebabnya Quran disebut sebagai “Hudal lil-muttaqiin” (PETUNJUK bagi orang-orang bertaqwa) ”agar kita menjadikannya sebagai TUNTUNAN melakoni kehidupan. Quran mentamsilkan kaum yang diberi ilmu melalui kitab namun tak mengamalkannya bagaikan “KELEDAI YANG MEMBAWA KITAB-KITAB TEBAL”.

VISI YANG KEDUA ADALAH “RIZKI YANG BAIK”. Mencari rejeki adalah aktifitas spiritual. Olehkarenanya, ikhtiarnya haruslah halal agar rejeki yang didapat juga halal. Asupan makanan menjadi kemuliaan yang mengalir dalam darah kita dan anak-anak kita. Doa-doa insya Allah diterimaNya karena kehalalan riski kita.

VISI YANG KETIGA ADALAH “AMAL YANG DITERIMA”. Sebagaimana ‘ILMU YANG HARUS AMALIAH’, ‘AMAL HARUSLAH ILMIAH’. “Amal yang paling baik adalah yang berlandaskan rasa ikhlas dan ilmu”, kata Fudhail bin ‘Iyadh. Ilmu mendahului amal, karena dengan ilmu amal menjadi benar. Dengan ilmu, amal menjadi bernilai di mata Allah.

Dalam al-Fatihah, orang yang beramal dengan berlandaskan ilmu digambarkan oleh para sheikhul Islam sebagai “alladzina an’amta ‘alahim” (ORANG-ORANG YANG DIBERI NIKMAT). Manusia yang berilmu namun tak mau beramal berkategori “al maghdhub” (ORANG-ORANG YANG DIMURKAI). Kaum yang beramal namun tak dilandasi ilmu termasuk “adh-dhallin” (ORANG-ORANG YANG SESAT).

Agar amal diterima, gunakan ilmu. Lejitkan ghirah untuk mengkaji ajaran Nabi. Tinggikan semangat untuk mentadzaburi kitab suci.

Lafadzkan “ALLAAHUMMA INNII AS ALUKA ‘ILMAN NAAFI’AN, WA RIZQAN THAYYIBAN, WA’AMALAN MUTAQABBALAN” sebagai pembuka hari. Agar hidup terpandu oleh visi. Agar hari-hari menjadi lebih berarti.

Melbourne, 8 April 2016
Ustadz Endro Hatmanto