Meraih Happy Ending

0
211
happy ending

Kita semua cenderung senang menikmati bermacam kisah yang berakhir dengan ‘HAPPY ENDING’. Kita pun tentu berharap bahwa kehidupan kita akan berakhir dengan ‘happy ending’.

Dalam bahasa agama, akhir hayat yang ‘happy ending’ disebut dengan ‘khusnul khatimah’. Bagi kaum beriman, cita-cita khusnul khatimah menjadi ‘locus’ dan penyemangat berbagai amal dan kebajikan.

“Mengapa cita-cita & “happy ending” begitu penting? Apakah ‘happy beginning’ tidak penting?”

Nabi menjawab: “Wa innamaal a’maalu bil khawaatiim”. “Sesungguhnya setiap amal tergantung pada akhirnya” (HR. Bukhari).

Jika amalan di akhir kehidupan kita buruk, amalan kita ternilai buruk. Jika amalan diakhir kehidupan kita baik, amalan kita ternilai baik. “Mantan preman yang tobat lebih baik daripada mantan ustadz yang maksiat”, demikian kata sebuah pesan.

Oleh karena itu, nabi memberi nasehat agar kita jangan kagum dan terlena pada amalan kita saat ini karena akhir hayat itulah penentunya (HR. Ahmad).

Namun, berakhirnya kehidupan yang ‘happy ending’ tentu tidak dilakukan dengan cara instan, melainkan dengan ‘istiqamah’, yakni terus menerus melakukan ikhtiar amal kebaikan. Jangan ‘berjudi’ dengan mengijinkan diri untuk jatuh dalam maksiat dalam menjalani kehidupan karena maut mengintai setiap waktu. Nadi kehidupan akan berhenti berdenyut setiap saat.

Ada sebuah nasehat bahasa Inggris yang pantas kita renungi:

“All the way to heaven is heaven. It is not just about the happy ending, but making every step along the way matter”.

Semoga kita bisa meraih ‘happy ending’.

Melbourne, 1 April 2016
Ustadz Endro Hatmanto