“Tabarruj Al Jahiliyyah” di Era Media Sosial

0
245
social media

Globalisasi menggunakan kekuatan “tiga F” untuk menyebarkan nilai-nilainya: 1) Food, 2) Fun and 3) Fashion. Sayangnya, kaum muslim (dan muslimah khususnya) banyak yang larut ke dalam tiga perkara ini. Tak terkecuali ‘fashion’ !

Namun jika tak hati-hati, mengikuti fashion akan menjatuhkan kaum mukmin kedalam jurang “tabarruj al Jahiliyyah” (QS. Al Ahzab: 33). Menurut Nouman Ali, ‘tabarruj al Jahiliyyah’ berarti ‘beautification of jahiliyyah’, yakni mempercantik dan memperindah diri sekedar untuk menarik perhatian. Nouman mengaitkan kata ‘tabarruj’ dengan kata ‘burj’ yang berarti menara atau “tower which functions to garner attention”.

Ada seorang remaja putri yang ingin memasang tindik (piercing) di perutnya. Ketika ditanya apa alasan melakukan perbuatan tersebut. Jawabnya: “Gue ingin agar gue jadi pusat perhatian”. Inilah contoh ekstrim perilaku yang dikendalikan oleh pola pikir “tabarruj al Jahiliyyah”.

Di era Facebook dan Twitter, tabarruj al jahiliyyah semakin menemukan bentuknya. Banyak kaum muslim (khususnya muslimah) menjadi narsis. Foto selfie. Wajah dipercantik. Alis dicelak. Bulu mata diperpanjang. Bibir dimonyongkan. “Agar tampak seksi”, katanya. Hasil foto di upload di facebook. Hati berdebar menunggu banjir ‘like’ dari para teman-temannya. Inilah model tabarruj al jahilliyah di era media sosial.

Keith Campbell, dalam bukunya “Narcissistic Epidemic: Living in the Age of Entitlement” mengatakan: “Media sosial telah melahirkan generasi yang narsis: haus perhatian dan pujian”. “People often utilize Facebook ‘to look important, look special and to gain attention, status and self-esteem”, kata Campbell.

So, apakah Islam tidak menghargai keindahan? Islam sangat menghargai keindahan, yakni keindahan yang menjunjung kehormatan. Bukan keindahan dan kecantikan yang narsistik yang hanya untuk menarik perhatian. Bukan kecantikan yang melahirkan ‘tabarruj al jahiliyyah’.

Islam sangat memuji kehormatan dan ‘self-esteem’ dan melarang narsisme yang mengarah kpd tabarruj al jahiliyyah. Bedakan: “Self-esteem is an attitude built on accomplishments we’ve mastered, values we’ve adhered and care we’ve shown toward others”. “Narcissism if often based on one’s self, an unhealthy drive to be seen as the best and a deep seated insecurity and inadequacy”.

Mukmin sejati tentu memilih kehormatan, amal shaleh, kontribusi dan prestasi. Mukmin sejati tentu menghindari narsisme dan kecantikan yang hanya sekedar digunakan untuk pamer dan menarik perhatian.
Mukmin sejati tentu menghindari “tabarruj al jahiliyyah”.

Melbourne, 22/7/2016
Ustadz Endro Hatmanto